Pagi itu aku melangkah dengan percaya diri melewati gang menuju terminal, menumpang Bus dari terminal KENANGAN menuju pasar INDAH karena disini berdekatan dengan kampus aku menempuh perkuliahan selama 5 tahun ini. Menumpang kendaraan yang sama, di jam yang sama setiap pagi membuat aku bisa menghafal sopir dan kondektur nya, orang-orang yang menumpang di jam itu pun hampir orang-orang yang sama setiap paginya sehingga tidak jarang terdengar canda gurau sepanjang perjalanan.
Perbedaan
pagi itu dengan hari-hari biasanya, hmmm mungkin suasana hati, karena hari itu adalah hari aku wisuda jadi kemungkinan hari terakhir aku melintas di jalur yang penuh dengan kenangan
selama 5 tahun ini.
Maklum anak kos, sejak malam aku
sudah persiapkan seragam wisuda, celana hitam, kemeja biru bergaris dan sepatu
yang di semir sampai mengkilap menambah percaya diriku meskipun masih
berdesak-desakan namun dalam hati ini adalah hari terakhir aku berdesak-desakan
di angkutan umum, setelah wisuda aku akan mendapat pekerjaan dan memiliki
kendaraan pribadi. Setibanya di kampus aku berusaha menyapa semua orang yang
yang ku jumpai dari pintu gerbang kampus hingga aula tempat dilaksanakannya
acara wisuda.
Pagi itu suasana kampus sangat
berbeda dipenuhi dengan wisudawan/ti, berdandan lengkap dengan atribut
siap mengikuti Prosesi wisuda, antusias warga kampus dalam menyelenggarakan
wisuda kali ini berbeda dengan wisuda biasanya dikarenakan selama 2 tahun
wisuda diselenggarakan secara daring akibat covid 19 dan ini adalah kali
pertama wisuda dilaksanakan secara Onside sehingga suasana nya sangat meriah.
Aku melangkah lebih dekat ke
panggung, hai andy… halo tante, andy ditemani ibunya, hai sinta….. halo om,
sinta juga ditemani ayahnya, halo pak jarot, beliau adalah dosen senior di
kampus. mereka adalah sebagian orang yang ku jumpai.
Waktu menunjukkan pukul 09 pagi dan
acara wisuda segera mulai, masing-masing wisudawan dan wisudawati mulai antre untuk menuju tempat duduk yang disediakan, informasi dari panitia wisuda bahwa,
setiap wisudawan/wisudawati akan disediakan 2 kursi kosong untuk masing-masing
wisudawan/wisudawati yang akan mengikuti wisuda.
Masing-masing wisudawan/wisudawati mulai
menggandeng orang tua mereka dan melangkah maju dengan senyum sumringah.
Di momen ini aku menundukan
kepalaku karena tidak ada orangtua yang menemani aku seperti
wisudawan/ti lainnya. Dalam suasana hati yang bercampur aduk sambil
menahan air mata, sejenak aku mengingat salah satu impian ku adalah menggandeng
ibuku dan melangkah bersama dalam momen-momen yang indah seperti ini sama
seperti teman-teman yang lainya. Sayangnya sosok yang kurindukan tidak akan
bisa hadir, bukan karena kesibukan atau kendala dana melainkan beliau sudah
pergi menghadap sang pencipta 10 tahun yang lalu untuk selama-lamanya.
Aku berusaha tegar dengan cara tetap
tersenyum dan terus melangkah maju sambil memikirkan kursi kosong di samping ku
yang seharusnya diduduki ibu akan ku letak kan tas agar kursi nya tidak kosong.
Sembari
menahan
perasaan yang tidak menentu seketika tanganku di genggaman oleh
seseorang, saat menoleh ternyata yang menggenggam tangan saya adalah pak
jarot ketika aku hendak bertanya mengapa pak jarot bisa berada di samping
saya namun beliau memberikan isyarat untuk jangan bertanya dan terus melangkah
menuju tempat duduk yang telah disediakan. Setibanya di kursi yang disediakan,
kami duduk bersebelahan tanpa kata, tanpa suara, hanya berfokus kepada
rangkaian acara wisuda yang dibacakan MC, kameramen yang lalu-lalang untuk
mendapatkan hasil foto yang terbaik dan larut dalam lirik mars kampus serta suasana wisuda yang meriah itu.
Satu persatu wisudawan/ti dipanggil namanya untuk Prosesi wisuda, aku kembali masuk dalam antrian,
tibalah di urutan 325 itu adalah nomor urutan ku, betapa kaget nya aku karena
saat di panggil, ternyata dari 400 wisudawan/ti aku terpilih sebagai
mahasiswa yang menginspirasi. Memang selama 5 tahun menempuh perkuliahan aku
tinggal di kontrakan sederhana dengan uang jajan yang dibilang sangat terbatas
sehingga untuk mencukupi kebutuhanku,
aku harus mengupayakan sedemikian rupa sampai menumpang angkot gratis
dengan cara berjalan kami ke terminal KENANGAN dari sini aku menumpang Bus
menuju kampus kebetulan kampusnya berdekatan dengan pasar INDAH, biasanya bus-bus ketika sampai di pasar indah para
sopir akan mengurangi kecepatan bus karena macet nya orang-orang yang lalu
lalang dan berjualan serta kendaraan yang parkir di bahu jalan. Kesempatan ini
aku manfaatkan dengan cara langsung melompat turun dari Bis sebelum ditagih
ongkos oleh kondektur dan ini aku lakukan selama 5 tahun. Ada rasa malu, rasa
sungkan dan sedikit merasa bersalah tapi untuk saat ini tidak ada pilihan.
Sementara berjalan sambil mengingat
perjuangan selama 5 tahun, tibalah aku di panggung dan rektor siap mengalungkan
medali kelulusan di leherku disertai dengan penyerahan piagam sebagai mahasiswa yang
menginspirasi. Dalam suasana hati yang penuh haru Bahagia namun ada pertanyaan
yang masih belum terjawab, sebab sampai saat itu aku belum tau siapa orang yang
membiayai kuliaku selama 5 tahun ini.
Saat turun dari panggung sedikit
dek-dekan saat didekati pihak bendahara kampus sambil berbisik…. Sahata, kamu perlu tahu selama 5 tahun ini semua uang
kuliamu ditanggung oleh pak jarot tetapi beliau merahasiakan semua ini, berhubung hari ini adalah hari
terakhir kamu di kampus maka kamu berhak tau siapa yang telah berkorban buat
kamu selama ini; ucap bendahara kampus.
Memang selama ini aku bertanya-tanya
siapa orang baik hati yang telah menjadi donatur dan tanpa kusadari orang itu
adalah pak jarot yang hadir di saat aku merindukan kehadiran
seorang ibu, beliau orang yang diam-diam telah berkorban buat aku selama 5
tahun ini.
Tanpa pikir Panjang aku langsung
berlari menuju tempat duduk dengan harapan akan memeluk pak jarot dan
mengucapkan banyak terima kasih sekaligus minta maaf karena aku telah berhutang
terimakasih selama 5 tahun ini.
Namun tanpa sepengetahuanku saat
mengantri untuk menerima piagam penghargaan saat itu pak jarot telah bertolak
menuju bandara karena anaknya yang berada di singapura mengalami gagal ginjal
dan harus operasi sehingga pak jarot tidak bisa menunggu sampai prosesi wisuda
selesai.
Saat ingin menyusul pak djarot ke
bandara, aku mengambil tas hendak pergi namun ketika tas diangkat ternyata pak
djarot meninggalkan sebuah surat yang isinya berupa pesan………. SAHATA…….
sebenarnya jadwal keberangkatan bapak ke singapura subuh tadi tetapi bapak sengaja menunda penerbangan demi
menemani kamu. Maaf bapak belum sempat mengucapkan selamat langsung atas
kelulusan dan prestasi yang kamu raih.
Sukses Selalu
Jarot Wijaya.
Nama Yusak
Ndun
Email ndunyusak@gmail.com
Instagram
@yusakndun
No hp
081237391045

Tidak ada komentar:
Posting Komentar