Selasa, 14 Maret 2023

SEBUAH PENANTIAN

 

Pagi itu aku melangkah dengan percaya diri melewati gang menuju terminal, menumpang Bus dari terminal KENANGAN menuju pasar INDAH karena disini berdekatan dengan kampus aku menempuh perkuliahan selama 5 tahun ini. Menumpang kendaraan yang sama, di jam yang sama setiap pagi membuat aku bisa menghafal sopir dan kondektur nya, orang-orang yang menumpang di jam itu pun hampir orang-orang yang sama setiap paginya sehingga tidak jarang terdengar canda gurau sepanjang perjalanan. 

Perbedaan pagi itu dengan hari-hari biasanya, hmmm mungkin suasana hati, karena hari itu adalah hari aku wisuda jadi kemungkinan hari terakhir aku melintas di jalur yang penuh dengan kenangan selama 5 tahun ini.

Maklum anak kos, sejak malam aku sudah persiapkan seragam wisuda, celana hitam, kemeja biru bergaris dan sepatu yang di semir sampai mengkilap menambah percaya diriku meskipun masih berdesak-desakan namun dalam hati ini adalah hari terakhir aku berdesak-desakan di angkutan umum, setelah wisuda aku akan mendapat pekerjaan dan memiliki kendaraan pribadi. Setibanya di kampus aku berusaha menyapa semua orang yang yang ku jumpai dari pintu gerbang kampus hingga aula tempat dilaksanakannya acara wisuda.

Pagi itu suasana kampus sangat berbeda dipenuhi dengan wisudawan/ti, berdandan lengkap dengan atribut siap mengikuti Prosesi wisuda, antusias warga kampus dalam menyelenggarakan wisuda kali ini berbeda dengan wisuda biasanya dikarenakan selama 2 tahun wisuda diselenggarakan secara daring akibat covid 19 dan ini adalah kali pertama wisuda dilaksanakan secara Onside sehingga suasana nya sangat meriah.

Aku melangkah lebih dekat ke panggung, hai andy… halo tante, andy ditemani ibunya, hai sinta….. halo om, sinta juga ditemani ayahnya, halo pak jarot, beliau adalah dosen senior di kampus. mereka adalah sebagian orang yang ku jumpai.

Waktu menunjukkan pukul 09 pagi dan acara wisuda segera mulai, masing-masing wisudawan dan wisudawati mulai antre untuk menuju tempat duduk yang disediakan, informasi dari panitia wisuda bahwa, setiap wisudawan/wisudawati akan disediakan 2 kursi kosong untuk masing-masing wisudawan/wisudawati yang akan mengikuti wisuda.

Masing-masing wisudawan/wisudawati mulai menggandeng orang tua mereka dan melangkah maju dengan senyum sumringah.

Di momen ini aku menundukan kepalaku karena tidak ada orangtua yang menemani aku seperti wisudawan/ti lainnya. Dalam suasana hati yang bercampur aduk sambil menahan air mata, sejenak aku mengingat salah satu impian ku adalah menggandeng ibuku dan melangkah bersama dalam momen-momen yang indah seperti ini sama seperti teman-teman yang lainya. Sayangnya sosok yang kurindukan tidak akan bisa hadir, bukan karena kesibukan atau kendala dana melainkan beliau sudah pergi menghadap sang pencipta 10 tahun yang lalu untuk selama-lamanya.

Aku berusaha tegar dengan cara tetap tersenyum dan terus melangkah maju sambil memikirkan kursi kosong di samping ku yang seharusnya diduduki ibu akan ku letak kan tas agar kursi nya tidak kosong.

Sembari menahan perasaan yang tidak menentu seketika tanganku di genggaman oleh seseorang, saat menoleh ternyata yang menggenggam tangan saya adalah pak jarot ketika aku hendak bertanya mengapa pak jarot bisa berada di samping saya namun beliau memberikan isyarat untuk jangan bertanya dan terus melangkah menuju tempat duduk yang telah disediakan. Setibanya di kursi yang disediakan, kami duduk bersebelahan tanpa kata, tanpa suara, hanya berfokus kepada rangkaian acara wisuda yang dibacakan MC, kameramen yang lalu-lalang untuk mendapatkan hasil foto yang terbaik dan larut dalam lirik mars kampus serta suasana wisuda yang meriah itu.

Satu persatu wisudawan/ti  dipanggil namanya untuk Prosesi wisuda, aku kembali masuk dalam antrian, tibalah di urutan 325 itu adalah nomor urutan ku, betapa kaget nya aku karena saat di panggil, ternyata dari 400 wisudawan/ti aku terpilih sebagai mahasiswa yang menginspirasi. Memang selama 5 tahun menempuh perkuliahan aku tinggal di kontrakan sederhana dengan uang jajan yang dibilang sangat terbatas sehingga untuk mencukupi kebutuhanku,  aku harus mengupayakan sedemikian rupa sampai menumpang angkot gratis dengan cara berjalan kami ke terminal KENANGAN dari sini aku menumpang Bus menuju kampus kebetulan kampusnya berdekatan dengan pasar INDAH, biasanya bus-bus ketika sampai di pasar indah para sopir akan mengurangi kecepatan bus karena macet nya orang-orang yang lalu lalang dan berjualan serta kendaraan yang parkir di bahu jalan. Kesempatan ini aku manfaatkan dengan cara langsung melompat turun dari Bis sebelum ditagih ongkos oleh kondektur dan ini aku lakukan selama 5 tahun. Ada rasa malu, rasa sungkan dan sedikit merasa bersalah tapi untuk saat ini tidak ada pilihan.

Sementara berjalan sambil mengingat perjuangan selama 5 tahun, tibalah aku di panggung dan rektor siap mengalungkan medali kelulusan di leherku disertai dengan penyerahan piagam sebagai mahasiswa yang menginspirasi. Dalam suasana hati yang penuh haru Bahagia namun ada pertanyaan yang masih belum terjawab, sebab sampai saat itu aku belum tau siapa orang yang membiayai kuliaku selama 5 tahun ini.

Saat turun dari panggung sedikit dek-dekan saat didekati pihak bendahara kampus sambil berbisik…. Sahata,  kamu perlu tahu selama 5 tahun ini semua uang kuliamu ditanggung oleh pak jarot tetapi beliau merahasiakan semua ini, berhubung hari ini adalah hari terakhir kamu di kampus maka kamu berhak tau siapa yang telah berkorban buat kamu selama ini; ucap bendahara kampus.

Memang selama ini aku bertanya-tanya siapa orang baik hati yang telah menjadi donatur dan tanpa kusadari orang itu adalah pak jarot yang hadir di saat aku merindukan kehadiran seorang ibu, beliau orang yang diam-diam telah berkorban buat aku selama 5 tahun ini.

 

Tanpa pikir Panjang aku langsung berlari menuju tempat duduk dengan harapan akan memeluk pak jarot dan mengucapkan banyak terima kasih sekaligus minta maaf karena aku telah berhutang terimakasih selama 5 tahun ini.

Namun tanpa sepengetahuanku saat mengantri untuk menerima piagam penghargaan saat itu pak jarot telah bertolak menuju bandara karena anaknya yang berada di singapura mengalami gagal ginjal dan harus operasi sehingga pak jarot tidak bisa menunggu sampai prosesi wisuda selesai.

Saat ingin menyusul pak djarot ke bandara, aku mengambil tas hendak pergi namun ketika tas diangkat ternyata pak djarot meninggalkan sebuah surat yang isinya berupa pesan………. SAHATA……. sebenarnya jadwal keberangkatan bapak ke singapura subuh tadi  tetapi bapak sengaja menunda penerbangan demi menemani kamu. Maaf bapak belum sempat mengucapkan selamat langsung atas kelulusan dan prestasi yang kamu raih.

Sukses Selalu

Jarot Wijaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama Yusak Ndun

Email ndunyusak@gmail.com

Instagram @yusakndun

No hp 081237391045

 

 


 

 

 

 Mewujudkan Mimpi Bukan Melanjutkan Mimpi Pengresmian GG Mart dihiasai dengan balon, kembang api, banyak tamu undangan yang diundang. acara ...